Klub Tukar Istri Bagian 2 (dua)


Fendi – Kamis pukul 11.28


Fendi mengancingkan kancing kemejanya satu persatu dari bawah. Sinta hanya bisa tersengal-sengal kelelahan karena melakukan tiga ronde tanpa istirahat sekalipun. Ia bahkan tidak berusaha untuk menutupi auratnya yang sudah basah berlumuran sprema Fendi yang mengalir deras.


“Aku pergi dulu ya mbak Sinta, aku bisa diomelin bos.” Fendi berbohong tanpa memberitahukannya bahwa sebenarnya ia dan Yosua, suami Sinta, sudah mengambil cuti untuk hari itu. “Mas….emhh….habis ini, mas sering-sering main ya kalau mas Yosua dinas keluar..” Sinta merangkan maju menuju tepi kasur yang sepreinya sudah berantakan kemana-mana. Masih telanjang bulat, ia menjulurkan tangannya minta dipeluk mesra oleh ‘mainan’ barunya.

“Tentu saja sayang,” Fendi mencium bibirnya dan melumat habis bibir merah Sinta yang begitu mengundang. Tanpa ia sadari, ia perlahan mendorong Sinta kembali ke kasur sambil terus bersenggama dengannya. Tangannya mulai kembali memainkan payudaranya tanpa melepaskan ciuman penuh hasratnya.


“Ah….mas….aku mau lagi mas…euuummh…..”

“Sekali lagi aja yah…”

“Itu juga kalau mas gak mau lagi..hhehe” Sinta tersenyum centil.


Fendi melanjutkan ciumannya dan mulai membuka resleting celananya lagi. Penisnya sudah kembali tegang dan mengacung maju minta cepat-cepat diselipkan di lubang yang baru saja ia jelajahi hari ini. Sinta semakin bergairah mendapati putingnya bersentuhan dengan dada Fendi yang berbulu halus dan jantan. Ia melenguh nafsu dan mengangkat kedua tangannya ke belakang. Fendi menciumi leher dan telinga Sinta dengan ganas sambil perlahan-lahan mengarahkan penisnya menuju lubang kenikmatan Sinta.


“Ahhh…massss….euuummmh….”

“Sinta…kamu seksi banget….aku suka banget wangi tubuh kamu….euuummmhhh”

“Ahh…mas buruan dong mas….aku udah gak kuat nih…eummmh…oooh…”

Dalam sekali sodokan kuat, Fendi memasukkan semua batang kemaluannya diikuti erangan nikmat oleh Sinta. “AHhhh, mas….oooh….”


Pinggul Fendi mulai aktif dan maju ke depan dan ke belakang sesuai irama. Ia memandangi wajah Sinta yang kenikmatan. Membayangkan istrinya memperoleh perlakuan yang sama oleh sang sahabat membuatnya semakin menggila. Ia mempercepat sodokannya dan Sinta semakin terengah-engah. Sinya mulai mengoceh tidak jelas sambil berusaha menahan rasa nikmat yang ia rasakan. Tangannya semakin liar, menarik-narik seprei kesayangannya bersama si suami yang semakin mengenaskan seiringan dengan sodokan Fendi.


Tiba-tiba Fendi berhenti. Dengan segenap kekuatannya, ia merenggut punggung Sinta dan mengangkatnya dari kasur. Sinta mengerti posisi ini dari blue film yang diam-diam ia tonton bersama tetangganya, Maria, dan segera melingkarkan kakinya di punggung Fendi. Bibirnya kembali berpautan dengan Fendi yang sekarang membantu Sinta bermain enjot-enjotan.

“Cepet…mas…ahhh….emmmh…aku mau…emmmh nyampe…”

“Aku juga….SIN….OOOH…AHHH…”

“MAS!….OOOOH MASSS! AAAAHHH…”


Yosua – Kamis pukul 12.34


Batang penisnya masih sedikit ngilu setelah melakukan vaginal seks dengan Mona sebanyak lima kali berturut-turut. Entah setan apa yang merasukinya hari itu, namun ia mendapatkan stamina baru. Stamina mengagumkan dimana biasanya ia sudah lemas setelah berhubungan sekali saja dengan Sinta. Ia masih bisa mencium aroma kencing Mona yang bercampur dengan cairan vagina dari memek dan jembutnya. Aroma memabukkan itu yang membuatnya begitu ketagihan dan tidak bisa berhenti.


“Hai kawan!”



Fendi memanggilnya tiba-tiba dari belakang. Ia yang sedang berangan-angan, terkejut dan berdiri secara refleks. Mereka sudah berjanji untuk ketemuan di sebuah kafe yang lumayan jauh dari lokasi kantor mereka. Ia menyambut Fendi dengan pelukan hangat dan bisa mencium aroma yang khas. Aroma sabun istrinya.

“Hai sobat! Ayo duduk.”

“Sip lah.”


Fendi tidak membuang waktu dan duduk di seberang Yosua. Mereka berdua saling tersenyum lebar. Selama beberapa detik ke depa, tidak ada yang berkata apa-apa. Mereka hanya tersenyum cengengesan mengetahui bahwa sahabat mereka telah melakukan perbuatan bejat dan terlarang dengan istri mereka masing-masing.


Pada akhirnya, Fendi memecahkan keheningan aneh di antara mereka berdua. “Jadi, bagaimana tadi?”

“Bagaimana ya?” Yosua tersenyum kikuk dan nakal. “Menyenangkan yang pasti.”

“Hahahahaha, bagus lah kalau begitu. Punyamu juga tidak kalah menyenangkan.”

Yosua mengangguk malu, dan puas. Seakan-akan bangga istrinya dianggap ‘memuaskan’ oleh laki-laki lain. Sahabatnya sendiri.


“Enggak kapok kan?”

“Apa yang harus dikapokkin? Kalau bisa sih, kita lanjut lagi.”

“Pasti lah itu. Ini enggak akan kita selesaikan secepat itu. Tapi yang pasti, lo jangan tiba-tiba berhenti berhubungan sama Sinta. Biar istri kita juga gak curiga sama sekali.”

“Mengerti sobat!”

“Ngomong-ngomong, lo mulai jam berapa tadi?”

“jam sembilan kali ya? Pokoknya istri kamu baru selesai nyuci.”

“Dia gampang diajaknya?”


Yosua tersenyum dan menjulurkan tubuhnya maju, menandakan ia mau membisikkan sesuatu. “Percaya atau enggak, istri kamu tuh baru saja masturbasi di dekat tempat cucian.”


“Sumpah?!” Fendi sedikit terkejut mendengar hal itu.

“Beneran! Pas gw datang, gw langsung sadar, kok celana pendeknya rada basah-basah ya di bagian itu. Dan dia juga lagi tersengal-sengal. Tinggal gw ungkit-ungkit dikit. Bles!”

Fendi merenung sedikit. Ia tidak pernah menyadari bahwa istrinya bisa sebegitu binalnya.

“Bagaimana dengan Sinta?”

“Awalnya dia sedikit melawan, pada akhirnya nyerah juga.”

“Gak mungkin cuma satu ronde kan? Tiga jam loh itu.”

“Masa cuma sekali, jarang-jarang rudalku ini bisa bangun lebih dari sekali setiap harinya!”

“Jadi?”

“Ehmmm…empat!”

“Kalah lo! Gw lima!”

“Pffft… beneran?”

“Beneran lah, ngapain gw bo’ong?”

“Mantap lah kawan!” Mereka berjabat tangan dengan begitu bersemangat, beberapa orang di sekitar mereka sampai kaget mendengar suara tangan mereka yang beradu begitu keras.


“Ngomong-ngomong, habis dari sini, bisa temani gw ke mangga dua?”

“Untuk apa?”

“Gw ada rencana.”

Yosua tersenyum lebar dan mengerdipkan matanya, mengisyaratkan rencana bejat lain yang terlintas di otaknya.”


Fendi – Kamis pukul 8.49


Fendi bersikap sebiasa mungkin malam itu. Ia duduk di penghujung kasur sambil mendengar suara istrinya yang sedang menggosok gigi. Anak laki-lakinya sudah tertidur lelap di kamar atas. Ia sudah melakukan perintah Yosua dengan sebaik mungkin. Sesuai harapannya, ia meletakkan kamera camcorder itu di rak paling atas lemari kamar tidurnya. Ia sudah mengecek dan beruntungnya, kamera itu menangkap semua gambar sesuai harapannya. Suasana kasur di kamar tidurnya.


Mona bersikap biasa saja sepualngnya ia dari kantor, meskipun ia tidak ke kantor hari itu. Ia menyambutnya dengan ciuman di pipi dan mengambil jas kerjanya dengan telaten. Suasana kamar tidurnya juga begitu rapih, Fendi tidak pernah mengira Mona pernah bersenggama dengan Yosua selama lima ronde di atas kasur itu.


“Mas, enggak gosok gigi?”

“Oh ya, aku hampir lupa.”


Mona melewatinya yang sedang setengah bengong menuju meja riasnya untuk memasang krim malam. Fendi memperhatikannya dan menyelinap masuk ke dalam kamar mandinya. Ia mulai menggosok giginya saat ia melihat beberapa bungkus kondom yang baru dipakai di dekat klosetnya. Ia bisa melihat jelas cairan sperma di dalam kondom itu yang masih basah oleh cairan vagina Mona. Tiba-tiba, ajaibnya, alat kemaluannya berdiri untuk kelima kalinya hari itu.


Ia mulai terangsang memandangi istrinya yang baru saja selesai memakai krim wajah dan merapihkan rambut. Wajah polos Mona yang begitu pandai menutupi perbuatan kejinya siang tadi membuat Fendi gemas, sedikit marah, dan sangat terangsang. Selepas berkumur-kumur, Fendi beralih ke kasur dan menyalakan lampu kamar tidurnya. Mona ikut menyelinap masuk dan berbaring di sampingnya.


“Mona?”

“Iya mas?”

“Aku lagi mau nih.”

Mona seperti sedikit terkejut mendengar pernyataan Fendi.

“Aku capek mas.”


Capek. Capek?! Jawaban Mona membuat Fendi sedikit marah. Ia mengaku capek padahal kelelahan berhubungan seksual dengan sahabatnya. Ia marah Mona menolak dirinya dan beralasan capek.


“Ayo dong ma. Papa lagi mau nih.”


Tangan Fendi bergerak secepat kilat dan menyelinap masuk ke dalam celana dalem Mona. Mona hanya memakai daster satin yang tipis, menunjukkan branya yang berwarna putih dan celana dalam tipis berwarna sama. Fendi menekan-nekan memek Mona dengan lembut, perlahan dan merangsan. Bulu-bulu jembut Mona yang subur ia main-mainkan dan klitorisnya ia tekan perlahan.


“Ahh…mas…aku capek mas…beneran deh…”


Fendi terbangun dengan cepat dan membuka selimut yang mereka pakai dengan paksa. Ia menyerang memek Mona dengan penuh amarah dan menarik celana dalam putih itu dalam sekali gerakan.


“Mas! Mas apa-apaan sih? Kok kayak gini.”


Fendi memaksa Mona mengangkang dan membuka paksa kedua pahanya. Ia memandangi memek Mona yang sudah mulai basah. Ia membayangkan sperma dan precum sahabatnya yang sudah menari-nari di dalam liang kenikmatan itu.


“Aku enggak kuat Mona. Aku mau memuaskan kamu.”

Fendi melahap habis memek Mona dan menjilat sisi-sisi memeknya dengan semangat.

“Mas…ahhh…enak banget mas….ehmmmm….”

“Enak kan Mona? Ehmmmmm memek kamu juga….ehmmmm lezat banget…”

“Mas beda dari biasanya…ahhhh…emmmmhhh”

Lidah Fendi menekan-nekan masuk ke dalam lubang kecil Mona. Lidahnya ia pelintir le atas dan ke kiri sementara tangannya asik mengelus-ngelus paha Mona.

“Mas….aaaah….mas semangat banget….emmmh….”


Fendi melepaskan jilatannya dan memasukkan jari telunjuknya ke dalam memek Mona. Ia menekan-nekan memek Mona semangat. Membayangkan Mona masturbasi selama mencuci membuat sedikit malu. Sebegitu tidak jantannya kah dia sampai si istri harus masturbasi sendiri? Ia bertekad memuaskan Mona sebisa mungkin. Tidak akan kalah dengan perlakuannya kepada Sinta.


“Mas…ahhh jangan cepet-cepet mas…emmmh…”

Fendi menjilat klitoris Mona sambil terus mempercepat permainan tangannya. Ia memasukkan jari tengahnya dan memandangi wajah Mona yang keenakkan tanpa melepaskan jilatan mulutnya. Tangannya semakin cepat maju ke depan dan ke belakang. Memek Mona semakin basah dan Fendi bisa merasakan tubuhnya menggelinjang hebat.’

“Ohhhh Mas! MAS! MAS!!! AHHHH!! AHHHH! AHHHH!”


Mona menggelinjang hebat dan tubuhnya berkontraksi dahsyat. Ia mengerang penuh nafsu dan cairan vaginanya mulai berhamburan keluar melalui memeknya. Fendi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan menjilat habis semua cairan itu. Setiapeguk yang ia telan membuatnya semakin bergairah dan bersemangat.

“Ohhh….mas….enak banget mas…”

“Kamu belum pernah digituin kan sama aku?”


Mona hanya terdiam malu. Reaksi diam mendadak yang dilakukan Mona menimbulkan tensi aneh secara mendadak di antara mereka berdua. Mona menyembunyikan sesuatu, bukan hanya hubungan seksual dengan sahabatnya namun sesuatu yang lain. Fendi tidak membuang-buang waktu dengan berpikir panjang dan mulai bergerak ke depan dan menciumi Mona. Bibir mereka terpau panas dan Fendi semakin aktif melumat bibir dan lidah Mona. Mona yang awalnya terkesan pasrah dan ogah-ogahan tiba-tiba ikut-ikutan menjadi aktif dan menekan kepala Fendi menuju mulutnya. Tangan kanannya mengacak-ngacak rambut Fendi dengan semangat sementara tangan kirinya mulai bergerak menuruni perut Fendi berusaha mencapai batang kejantanan suaminya selama lima belas tahun ini. Ia merindukan seks panas seperti ini yang sudah jarang ia dapatkan dengan sang suami. Meskipun seks yang ia lakukan pagi ini tidak kalah merangsang dan hebat, melihat suaminya tiba-tiba semangat membuat Mona menjadi semakin bergairah dan penasaran.

“Aku masukin sekarang ya sayang..”

“Ahhh…cepetan mas…emmmh”


Fendi mengarahkan penisnya yang sudah tegang mencuat secara sempurna menuju liang kemaluan Mona. Ia mulai menekan secara perlahan-lahan diikuti desah gelisah Mona. “Ahhh…emmmh..mas….oooh…emmh” Mona menggigiti bibirnya nafsu. Ia memandangi Fendi yang sudah bercucuran keringat dengan begitu nafsunya. Ia seakan-akan melihat Fendi sewaktu ia masih menjadi pacarnya di SMA dulu. Setiap kali mereka berhubungan, semua begitu tabu dan menengangkan, membuatnya sangat bergairah. Ia merasakan sensasi itu lagi, entah karena apa. Seks panas yang ia damba-dambakan dengan si suami selama delapan tahun terakhir datang kembali sudah, tepat setelah ia berselingkuh untuk perama kalinya. Sungguh hari yang menyenangkan!!


BLESS!!

“AAAAAHHH!! Emmmh…ooooh sayang…ahhh teken sayang..emmmh teken!”

Fendi mengikuti permintaan Mona tanpa berpikir panjang dan mulai memainkan pinggulnya maju ke depan dan ke belakang.

“Enak say?”

“Enak…emmmh…enak banget sayangku…emmmh..OOHH!”

Fendi menghujamkan penisnya semakin menggila. “Kamu hari ni enak banget…emmmh..memeknya sayang…emmmh”

“OOOHH, FEN! Ahhhh cium aku…emmmh..oooh…cium aku Fen!”

Fendi melumat bibirnya tanpa melepaskan gerakan pinggulnya yang mulai tidak teratur akibat terlalu cepat.

“Ahhhh…ooh…”

Fendi berbisik di telinga Mona. “Diputar ya sayang tubuhnya..”


Tanpa melepaskan tubuh Mona, Fendi memutar tubuh sintal wanita berumur 38 tahun itu menjadi posisi nungging. Ia melanjutkan tusukan penisnya dengan gaya doggy style, sama persis seperti gaya yang Yosua berikan kepada Mona pagi ini.

“Ahhhhh…kamu kasar banget Fen…emmmh….oooh…”

“Tapi…mmmmh….kamu suka kan?? mmmhhhh”

“Ahhhh, Fen aku mau sampai lagi Fen! Mmmmh aaaahhhh FEN! FEN!”

“Aku juga sayang, ooooh!”

CROOOT CROOOT CROOT


Fendi melepaskan semua pejuhnya di dalam memek Mona. Mereka mengerang lemas secara bersamaan. Fendi merebahikan tubuhnya di atas punggung Mona yang masinh menungging dan menciumi lehernya yang basah oleh keringat.

“I love you honey…”


“Hah…hah….I love you too…” Mona menutup mata berusaha mencerna kenikmatan bertubi-tubi yang ia rasakan hari ini.

Fendi menoleh ke belakang ke arah kamera cam corder yang ia sembunyikan dengan baik di dalam lemari pakaiannya. Ia memandangi kamera itu tepat di tengah lensanya. Seakan-akan bisa melihat langsung mata Yosua yang sedang tersenyum lebar melihat aksi mereka berdua. Dengan tangan penuh peju setelah “berolahraga” solo dengan adik kecilnya.


Jumat – Pukul 07.27

“Selamat pagi Pak Fendi. Bagaimana cutinya kemarin?” Seorang resepsionis manis berambut bob bernama Alia menyapanya.

“Bagaimana ya Alia? Menyenangkan!”

Alia tersenyum centil. Entah mengapa setelah tiga tahun sekantor dengannya, ia baru menyadari betapa menariknya penampilan Alia sebenarnya. Kontak lensnya yang berwrna abu-abu terlihat cantik terutama jika disandingkan dengan dadanya yang berukuran jumbo. 36 B jika Fendi perkirakan.

“Tepat waktu kawan?”

Fendi mengenali suara itu. Yosua berjalan di belakangnya dan merangkulnya tanpa ada aba-aba sama sekali. Fendi hanya tertawa kikuk dan berjalan mengikuti irama langkah Yosua.

“Pertunjukkan hebat semalam, bos!”

“Bahagia lo ya? Nonton dimana lo?”

“Di kamar kerja gw. Istri gw udah tidur duluan.”

“Hmmm, jadi kapan giliran gw?”

“Malam ini dia ada arisan ama tetangganya.”

“Ahh sialan kan!”

“Denger dulu. Lo enggak tahu kan apa yang gw denger kemarin?”

“Apa? Lo denger apa?”

“Nanti pulang lo gw ajak ke rumah gw. Bilang ke Mona kalau lo mau gw ajak maen capsa.”

“Capsa? Maksudnya apaan sih?”

“Percaya ama gw! Sini hape lo. Gw yang minta ijin ama Mona.”


Fendi berusaha mengolah apa yang baru saja ia dengar dari Yosua. Ia yang masih ling lung mengeluarkan handphonenya dari dalam kantong dan menyerahkannya kepada Yosua.


Jumat – pukul 6.40

“Mas Fendi, Mas Yos, aku pergii arisan dulu ya.”

“Oke silahkan sayang.” Yosua berlagak malas-malasan menjawab dan fokus terhadap tayangan sepak bola di televisi. Fendi sempat melirik dan menangkap Sinta yang mengedipkan matanya ke arah Fendi dengan centil. Setelah yakin Sinta telah keluar dari pagar luar rumahnya, ia tidak membuang waktu untuk menanyakan apa maksud rencananya pura-pura main capsa pagi ini.


“Eh, jadi apa maksud lo ngajak gw main ke rumah lo hari ini?”

“Dia udah beneran pergi? Sini ayo lo ke kamar gw.”

Fendi mengikutinya dengan perlahan-lahan dan masuk ke dalam tempatnya berhubungan senggama dengan Sinta kemarin pagi.

“Ada apa disini?”

“Lo liat ya.”


Yosua membuka laci di samping kiri kasurnya. Di dalamnya hanya terdapat berbagai obat-obatan dan barang-barang tidak penting.

“Ada apaan sih? Cuma obat-obatan?”

“Sabar dulu….mmmmh!!”


Dalam sekali gerakan Yosua menarik lacinya kuat dengan sedikit dicondongkan ke atas. Ia menarik keluar kabinet berisi obat-obatan itu, mengekspos sedikit celah gelap yang tersembunyi di dalam lemari. Ia memasukkan tangannya dan mengeluarkan setumpuk vcd.


“Vcd apa?”

“Bokep.”

“Punya lo?”

“Bukan, punya Sinta.”

“Beneran? Sejak kapan istri lo punya bokep?”

“Dari arisannya.”

“Arisan?”


Yosua mengangguk dan tersenyum lebar. Ia memasukkan kembali tumpukkan kaset bokep koleksi Sinta dan meletakkan kembali kabinet itu di laci samping kiri kasur.

“Lalu apa tujuan lo nunjukkin ini semua ke gw?”

“Mau yang gak kalah seru gak sama yang kemarin?”

Yosua mengisyaratkan Fendi untuk mengikutinya keluar. Ia mulai menaiki tangga menuju lantai dua mengajak Fendi yang kebingungan menuju kamar anaknya.


“Anak gw lagi jalan-jalan ke mall, jadi lo bisa lihat kegiatan mereka secara jelas.”

“Kegiatan?”

Mereka bergerak masuk menuju balkon kamar anak perempuan Yosua. “Lihat apaan Yos?”

“Lirik ke kiri bawah lo.”


“Fendi melirik ke bawah dan bisa melihat jelas kegiatan apa yang Yosua maksud. Di dalam sebuah taman yang terdapat di perkarangan tetanngga Yosua terlihat tiga orang wanita mulai dari muda hingga setengah baya. Mereka saling tertawa dan bergosip bersama.

“Apaan Yos? Cuma ibu-ibu lagi arisan.”

“Lo liat tivi di pojoknya kan?”

“Liat kok.”

“Tunggu aja apa yang bakal dipasang sebentar lagi.”


Seorang wanita berambut panjang berjalan masuk, disambut oleh sambutan hangat para ibu-ibu itu. Fendi bisa melihat jelas bahwa wanita itu Sinta dari bentuk tubuhnya yang berbentuk seperti gitar spanyol secara jelas. Dari gerak-geriknya Fendi bisa melihat Sinta mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Dalam waktu yang hampir bersamaan ia memasukkan video cd itu ke dalam dvd player dan jelaslah sudah apa yang mereka tonton.


Sinta – Jumat pukul 07.34

“Oke ibu-ibu, aku kemarin baru dapat jatah loh.”

“Ihhh Sinta mah asik banget. Suami aku mana kuat lagi berdiri?” Wanita berusia paling matang di antara mereka menjawab dengan antusias.

“Ah jeng Martha bisa aja. Emmmh, tapi bukan dari suami aku!”

Semua langsung nyerocos dengan bersamaan.

“Ama siapa jeng? Ih gak cerita-cerita!” Maria pemilik rumah itu berusia sepantaran dengan Sinta namun rambutnya dicat pirang mentereng.

“Kamu kok beruntung banget sih bisa sering-sering, suami aku mah sibuk melayar di laut sana.” Ratih yang berusia paling muda baru memasuki usia kepala tiga.

“Temen suami aku. Dia udah kawin juga loh padahal, tapi dia jago banget! Enak banget deh jeng!”

“Aku jadi udah mulai horny kan nih.” Maria sudah mulai mengelus-ngelus selangkangannya.

“Eh tunggu dulu! Dvd yang aku besen dari forum asik itu baru dateng kemarin.”

“Ayo cepetan dong dipasang jeng! Ih kelamaan nih.” Martha mulai membuka kancing dasternya.


Perlahan suara musik elektrik mulai diputar. Dua orang wnita bertubuh seksi memasuki ruangan ditemani empat orang laki-laki macho yang batangnya sudah tegang semua. Melihat adegan ini, semua ibu-ibu itu tidak membuang waktu lagi dan melucuti semua pakaiannya.


Martha memiliki payudara yang besar, meski sudah sedikit londoi, masih saja lumayan menakjubkan dengan puting coklat yang keras. Ia mulai menggesek-gesekkan tangannya ke atas memeknya yang penuh bulu dan basah. Dari kursinya, ia mulai melenguh lenguh sambil memainkan payudaranya dengan tangan yang lain.


“Jeng Martha semangat banget deh, sini aku bantu.” Tuan rumah hari itu, Maria berusia 37 tahun. Suaminya terlalu sibuk berpergian ke luar negeri dan ia menemukan bahwa dirinya juga cukup terangsang dengan bermain bersama sesama wanita. Payudara yang lumayan besar dan memeknya yang terawat bersih dari bulu dijamin akan membuat banyak laki-laki ngiler. Ia mulai mengelus-ngelus payudara Martha yang lain dan mengigiti lehernya.

“Ooooh Mar, aku enggak pernah bosan deh kalau kamu gituin. Emmmh…”

Maria semakin aktif dan mengajak Martha bagun dari kursinya. Ia telah menyediakan matras besar di tengah kursi-kursi yang dipasang melingkar dan mengisyaratkan agar Martha merebahkan dirinya. Ia mulai leluasa menciumi pentil coklat Martha dan menyedot-nyedot pentil yang sudah mancung karena horny hebat itu. Ia menggesek-gesekkan memeknya agar clitoris mereka berdua dapat bertemu.


“Ratih mau ikutan?”

“Emmh….boleh mbak….”

Ratih menerima ajakan Sinta dan melumat bibirnya hebat. Tangannya mulai memainkan payudara bundar Sinta dan mencubit-cubit putingnya. Mereka mengambil posisi di sebelah Maria dan Martha dan mulai tidak kalah sibuk. Sinta dan Ratih merubah posisi mereka menjadi 69 dan mulai menjilati memek pasangan mereka masing-masing.

“Emmmh memek kamu enak banget Rat..”

“ooooh…ahhhh mbak jangan disitu mbak…emmmh…”


BERSAMBUNG…